Minggu, 11 Juni 2017

Pemeriksaan Kanker Ovarium dengan menggunakan ROMA

Pemeriksaan Kanker Ovarium dengan menggunakan ROMA

ROMA ( Risk of Ovarian Malignancy Algorithm)  Untuk diagnosa Kanker Ovarium yang lebih baik  dengan CA125 + HE4
Fakta tentang Kanker Ovarium
Kanker ovarium berada di urutan ke-8 dari jenis kanker terbanyak yang  diderita oleh perempuan di Indonesia dan merupakan urutan ke-4 kasus kanker di RS Kanker Dharmais dari 2010-2013 dengan rerata 134 kasus baru tiap tahunnya dengan angka kematian  sekitar 23.4%.
Pemeriksaan Kanker Ovarium
Kebanyakan kasus-kasus kanker ovari terlambat terdeteksi karena gejala yang berkaitan dengan massa pelvis dan kadang tidak spesifik dan meragukan. Selain dilakukan pemeriksaan klinis dan pencitraan (USG, MRI),  pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah CA125.






 CA125 memiliki keterbatasan untuk diagnosa kanker ovarium karena:
1. Tidak sensitif ada stadium awal, karena hanya meningkat 30-50% pada kasus stadium I.
2. Tidak mampu membedakan tumor jinak dan yang ganas, karena juga meningkat pada 88% kasus endometriosis, sirosis (40-80%), dan lainnya.
Kombinasi dengan pemeriksaan CA125 dan HE4 mampu membantu stratifikasi rasio pasien dengan masa pelvis sehingga dapat ditangani lebih baik. ROMA (Risk of Ovarian Malignancy Algo-rithm) adalah formula kombinasi pemeriksaan CA125 & HE4 yang digunakan untuk mengetahui risiko keganasan pada pasien dengan massa pelvis. Untuk setiap permintaan tes ROMA, harus menyertakan status menopause pasien dan otomatis akan dikeluarkan nilai HE4 dan CA125, serta hasil hitungan ROMA sekaligus dalam lembar hasil
Informasi Pemeriksaan
Metode pemeriksaan :  CMIA (chemiluminescent microparticle immunoassay)
Jenis Spesimen :  Whole Blood
Jenis Sampel :  Serum
Nilai rujukan HE4:
premenopause ≤ 70 pmol/L
postmenopause ≤  140 pmol/L
Stabilitas sampel :
24 jam (suhu ruang)
4 hari (2-8˚C)
4 hari (≤  -10˚C), beku ulang maks 3x
Cut Off ROMA
Premenopause : ROMA ≥ 7.4% = risiko tinggi kanker ovarium epitelial
ROMA < 7.4% = risiko rendah kanker ovarium epitelial
Postmenopause:
ROMA ≥ 25.3% = risiko tinggi kanker ovarium epitelial
ROMA <25.3% = risiko rendah kanker ovarium epitelial

http://www.pramita.co.id/index.php/artikel-kesehatan/99-bulletin/335-pemeriksaan-kanker-ovarium-dengan-menggunakan-roma-2


EmoticonEmoticon